Ibadah City of worship Cibubur Raya akan diadakan pada hari Rabu / 16 Maret 2011, jam : 19.00 wib – selesai, bertempat di Ruko Little China JA / 3, Legenda Wisata.

Kami mengundang seluruh jemaat dari berbagai denominasi untuk hadir dan alami lawatan Tuhan dalam ibadah tersebut.

 

Tuhan Yesus memberkati.

Yohanes 4:28-29

“Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

 

Dalam Yohanes 4:1-42 kita temukan percakapan antara Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan tersebut adalah perempuan yang tidak diterima di kota tempat tinggalnya. Mengapa demikian? Jawaban yang paling mungkin adalah karena perempuan itu belum menemukan peranannya sebagai seorang perempuan yang sesungguhnya. Ia mempunyai lima suami dan laki-laki yang ada sekarang pada-nya, bukanlah suami-nya (Yoh. 4:17-18). Yesus mengetahui hal itu, namun ketika Yesus menyuruh perempuan itu memanggil suaminya, ia pun mencoba membohongi Yesus, hal itu dilakukannya karena ia malu mengakui statusnya yang bersuami banyak. Itulah sebabnya perempuan ini juga pergi ke sumur pada pukul dua belas, karena pada jam-jam demikian pastilah tidak akan ada orang yang mengambil air, dengan begitu tidak akan ada orang yang melihatnya menimba air dan mencemooh dirinya karena statusnya itu.

 

Begitu rendah orang sekitarnya memandang hidup perempuan ini, sehingga semua orang bisa menghakimi dirinya. Padahal mungkin perempuan ini pun tidak mau menerima keadaan hidup yang demikian. Pada saat-saat seperti itu, tentulah perempuan ini menantikan datangnya pertolongan dalam hidupnya. Apakah ia akan berjuang demi mendapatkan pengakuan atas hidupnya? Atau adakah orang yang akan menolong dirinya untuk menemukan apa yang benar untuk dilakukan? Orang lain menuntut hidupnya benar namun tak seorangpun mau mengajarkan hidup yang benar kepadanya.

 

Yesus Mengangkat Peranan Perempuan

 

Perjalanan Yesus melintasi daerah Samaria bukanlah suatu kebetulan, karena pastilah Ia mempunyai maksud dan tujuan tertentu, terutama bagi perempuan Samaria itu. Apa yang di lakukan Yesus bagi perempuan Samaria itu?

 

Pertama, Yesus sengaja lewat ke kota tempat tinggal perempuan itu. Wilayah kota itu adalah kota yang hina dan kawasan terlarang, namun Yesus melanggar batasan itu (Yoh. 4:4).

 

Kedua, Yesus melanggar peraturan bahwa orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi (Yoh. 4:7).

 

Ketiga, Yesus lebih dahulu membuka percakapan awal kepada perempuan itu. Yang menurut tradisi mereka, bahwa wanita dilarang bicara di muka umum, bahkan lebih jauh diceritakan bahwa Yesus meminta air kepada perempuan itu (Yoh. 4:7-8).

 

Itulah realitanya, bahwa Yesus melakukan apa yang tidak dilakukan manusia. Jika kita ditanya apakah kita akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Yesus? Yesus memperlakukan perempuan itu sebagaimana seharusnya, dan tidak seperti orang-orang di sekitar perempuan itu. Apa yang telah dilakukan Yesus membuat perempuan telah menemukan keutuhan dirinya dan hak-nya dalam masyarakat. Pertemuan dan perbincangan Yesus dengan perempuan itu, membuatnya dia mengerti dan mengenal sebuah kebenaran, bahkan ia berani muncul di depan umum.

“Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: (Yoh. 4:28).

 

Ketika ia berani mengangkat suara maka sebenarnya ia telah menemukan perannya, ia “bersuara” dan ”berani keluar” menemui orang banyak untuk mengatakan kebenaran yang telah diterimanya. Kebenaran itu adalah bahwa ia telah bertemu dengan Mesias dan menerima Keselamatan. (Yoh 4:27-28). Yesus telah mengangkat hidup perempuan Samaria itu, bahkan kebenaran yang baru saja diterimanya membuat perempuan itu lupa akan statusnya, yang dia tahu bahwa ia harus menyampaikan kebenaran yang dari pada Yesus. Inilah peranan perempuan yang sesungguhnya, bahwa perempuan adalah pembawa kebenaran bagi sesamanya.

 

Perempuan dalam Mutiplikasi dan Promosi

 

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa peranan kita khususnya sebagai perempuan bukanlah berjuang untuk mendapatkan persamaan hak, melainkan berjuang bersama menjadi pemberita kabar Keselamatan bagi orang lain. Lalu setelah perempuan menemukan peranannya, bagaimana peranan perempuan di tahun Multiplikasi dan Promosi ini?

 

1. Mengalami Perjumpaan dengan Kristus

Perjumpaan dengan Kristus scara pribadi adalah hal utama bagi setiap orang percaya. Sebab tanpa perjumpaan dengan Kristus tidak mungkin seseorang berkenan menjadi saksi Kristus dan membawa kebenaran dalam hidupnya. Dalam peristiwa percakapan antara Yesus dan perempuan Samaria itu juga demikian, sebelumnya Yesus menguak dosa perempuan itu dan Ia menyucikan hidup perempuan itu.

“Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” (Yoh. 4:16-18).

Dan akhirnya perempuan mengakui bahwa Yesus benar-benar Mesias yang datang untuk menyelamatkan hidupnya. Sebab Ia tahu apa yang dilakukan oleh perempuan itu. Namun Yesus bukan menghakimi perempuan itu, melainkan Ia mengajarkan kebenaran kepadanya (Yoh. 4:22-24). Demikianlah juga kepada kaum perempuan khususnya, kita harus mengalami perjumpaan dengan Kristus terlebih dahulu sebelum kita dapat menjadi saksi bagi Kristus dan menjadi berkat bagi hidup sesama kita.

 

2. Menerima Kebenaran dan Merespon

Dalam peristiwa perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria itu, Yesus mengajarkan kebenaran kepada perempuan itu. Perempuan itu menerima apa yang diajarkan Tuhan Yesus. Bahkan kebenaran itu membuat seorang perempuan berani berbicara, dan menemukan perannya dalam lingkungannya. Ketika Yesus meminta air kepada perempuan itu, Ia mengajarkan apa yang belum pernah diterima oleh perempuan itu sebelumnya.

“Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hi-dup yang kekal.”(Yoh. 4:13-14).

 

3. Bertindak sebagai Agen Kebenaran.

”Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”(Yoh. 4:28-29).

Dalam peristiwa ini tampak jelas bahwa perempuan ini segera bertindak untuk mengabarkan apa yang telah diterimanya dari Tuhan Yesus, ia tidak menunggu-nunggu waktu. Ia langsung pergi ke kota sehingga banyak orang yang akhirnya datang kepada Yesus. “Maka mereka pun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus.” (Yoh. 4:30).

Demikianlah kiranya kita sebagai perempuan, hendaknya setiap perempuan harus mempergunakan waktu agar perempuan menjadi agen kebenaran bagi banyak orang. Saat ini apa yang diceritakan oleh perempuan-perempuan bukan lagi gosip semata, bukan perkataan yang sia-sia seperti yang dilakukan perempuan pada umumnya, tetapi kaum wanita adalah agen kebenaran yang hanya menceritakan apa yang di ajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Dengan menjadi pembawa kebenaran bagi sesama, maka akan banyak jiwa yang dimenangkan dan hidup kita semakin diberkati.

 

Peristiwa percakapan Yesus dan perempuan Samaria di atas, merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi hidup orang percaya, khususnya bagi kaum perempuan. Peranan perempuan telah ditemukan sejak dahulu, Yesuslah yang telah membuat perempuan menemukan peranannya. Bagaimana dengan peran wanita hari ini? Adakah perempuan saat ini masih memperjuangkan Imannya dan memberitakan Mesias bagi hidup sesamanya? Peranan perempuan bukan semata-mata hanya untuk memperjuangkan persamaan hak sebagaimana yang dilakukan perempuan pada umumnya. Perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus itu adalah seorang perempuan biasa, namun perjumpaannya dengan Yesus menjadikannya sebagai perempuan yang luar biasa. Oleh sebab itu kaum wanita tidak perlu merasa terbelakang, dan tidak perlu ada persamaan hak yang harus di perjuangkan. Keterbelakangan kita adalah jika kita tidak merespon panggilan kita sebagai agen kebenaran. Persamaan kita adalah hidup menjadi pembawa kabar keselamatan yang dari Tuhan Yesus Kristus kepada sesama kita.

 

Kejadian 6: 9-22

Rencana Allah yang besar, di awali melalui sebuah keluarga yakni keluarga Adam dan Hawa. Keluarga begitu penting di hadapan Allah. Yesus pun datang ke dalam dunia ini melalui sebuah keluarga kudus Yusuf dan Maria.

“Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,

maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.

Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.”

Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (Kejadian 6:5-8).

Di tengah murka Allah selalu ada yang mendapat kasih karuniaNya. Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan. Pertanyaan yang menarik untuk direnungkan, mengapa begitu banyak orang binasa pada masa air bah, mengapa Nuh dan keluarganya mendapat kasih karunia Tuhan? Apakah Tuhan pilih kasih terhadap umatNya? Apa yang dilakukan oleh Nuh dalam kehidupannya, sehingga ia mendapat kasih karunia Tuhan? Inilah yang dapat menjadi pelajaran indah sepanjang masa.

Tiga kunci Nuh dan keluarganya mengalami multiplikasi dan promosi :

Pertama : Nuh adalah seorang yang benar. Benar bukan menurut ukuran dan standar manusia tetapi benar menurut Tuhan. Tuhan senang dengan orang yang benar. Tuhan selalu mencari orang yang benar untuk dipakai dan dipromosikan oleh Tuhan. Daud adalah orang benar, sehingga Allah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah Para Rasul 13:22b). Daud dipromosikan oleh Tuhan dari seorang gembala menjadi seorang Raja.

1. Kunci Pertama : BENAR DI HADAPAN TUHAN

A. Para pria hendaknya menjadi suami yang benar di hadapan Tuhan. Mengerti dan melakukan tanggung jawabnya sebagai suami. Suami adalah penanggung jawab terakhir dalam sebuah keluarga. Benar sebagai seorang ayah. Memahami dan melaksanakan kewajibannya sebagai ayah. Memberikan contoh dan teladan bagi setiap anggota keluarganya. Menjadi figur yang siap jadi panutan. Melakukan benar dalam setiap pekerjaan, usaha dan pelayanan.

B. Para wanita hendaknya menjadi isteri yang benar. Mengerti dan melakukan tanggung jawabnya sebagai isteri. Isteri adalah penolong, pendamping dan penghibur bagi suami dan anak. Menjadi Ibu yang benar dengan melakukan kasih dan disiplin yang seimbang bagi setiap anak.

C. Anak-anak hendaknya menjadi anak yang benar, taat dan menghormati orang tua. Selalu bertanya kepada orangtua.

Pertanyaan yang juga menarik ialah mengapa isteri Nuh, anak-anak dan menantunya sangat taat kepada Nuh dalam pembangunan bahtera Nuh? Dapat dipastikan Nuh adalah seorang figur suami dan ayah yang memiliki otoritas yang tinggi dari Tuhan karena hidupnya benar. Nuh dan keluarganya membangun bahtera dalam kurun waktu yang begitu lama. Dalam proses pembangunan ini pastilah mereka sering sharing. Mereka memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Tidak ada yang dapat mengikat orang lebih baik daripada percakapan dari hati ke hati. Namun sangat disayangkan, dalam keluarga masa kini – hal yang seperti ini persentasenya sangat kecil sekali.

 

2. Kunci Kedua: KEHIDUPAN YANG TIDAK BERCELA

Kuasa Allah sering dibatasi oleh logika dan pikiran manusia. Jikalau Nuh hidup tidak bercela, maka kitapun yang hidup dalam generasi ini dapat hidup seperti Nuh. “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”(1 Petrus 1:15-16).

Allah tidak pernah memerintahkan yang tidak dapat dilakukan oleh umat Tuhan. Sama halnya seperti seorang ayah tidak mungkin memerintahkan anaknya yang berusia 5 tahun untuk memikul beban seberat 100 kg, karena ayahnya tahu batas kemampuan anaknya. Masalahnya, apakah Anda siap? Jikalau siap maka anugerah Tuhanlah yang memberi kekuatan, bukan kuat dan gagah manusia. Jadilah seorang suami, isteri, anak, pengusaha dan pelayan Tuhan yang tidak bercela.

Tantangan yang dihadapi oleh keluarga Nuh tidak kalah dengan tantangan yang ada pada saat ini. Dua dosa yang sangat menonjol pada masa Nuh yakni dosa pesta pora, makan minum dan kawin mengawinkan, (kawin, cerai, lalu kawin lagi, cerai lagi, kawin lagi dan seterusnya). Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah penyakit jantung koroner. Hal ini erat kaitannya dengan gaya hidup yang berhubungan dengan tingginya konsumsi karbohidrat, lemak dan gula. Masalah perceraian semakin tinggi. Di DKI Jakarta saja pada tahun 2006 ada lebih 500 pasang orang Kristen yang bercerai secara resmi dan terdaftar di Catatan Sipil, belum lagi yang tidak terdaftar. Angka yang sebenarnya mungkin lebih banyak dari yang terdaftar.

Mintalah anugerah Tuhan, untuk dapat hidup benar dan tidak bercela di tengah arus yang begitu kencang.

 

3. Kunci Ketiga : NUH HIDUP BERGAUL DENGAN ALLAH

Nuh hidup intim dan berjalan bersama dengan Allah. Karena itu di tengah-tengah kehidupan kejahatan manusia yang besar dan bahwa segala kencendrungan hatinya selalu membuahkan kejahatan, Nuh dapat mendengar suara Allah. Nuh mendapat tuntunan dan perintah Allah untuk membangun satu “Mega Proyek” yakni satu bahtera. Walaupun Nuh tidak memiliki latar belakang maritim, tetapi Allah tidak pernah salah. Jikalau Ia memerintahkan, maka Ia juga yang akan memberi hikmat dan pengetahuan untuk melakukan perintah tersebut. Nuh juga ketika menerima mandat Allah tersebut, ia tidak memberikan respons yang salah. Bisa dimengerti kemungkinan ada banyak pertanyaan dalam hati Nuh bagaimana proses pembangunan “Mega Proyek” tersebut. Namun hal yang sangat indah walaupun Nuh belum mengerti, ia taat dan melakukan perintah Allah.

“Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (Kejadian 6:22).

Keintiman dengan Allah merupakan langkah yang terpenting untuk dapat mengalami multiplikasi dan promosi Tuhan. Hudson Taylor karena intim dengan Tuhan sejak usia 5 tahun telah memiliki kerinduan untuk menjadi pemberita kabar baik. Sejarah misi di China, tidak dapat dilepaskan dari pelayanan Hudson Taylor. Ia mengalami multipikasi dan promosi dari Tuhan, menjadi alat yang dahsyat dalam tangan Tuhan, karena ia intim dan berjalan bersama Tuhan.

 

Dalam keluarga, seiring dengan bertambahnya usia pernikahan, maka bertambah pula kesibukan oleh setiap anggota keluarga. Pada satu sisi hal itu tentunya merupakan berkat Tuhan yang harus disyukuri. Namun di sisi lain, berkat Tuhan dapat justru membawa menjauh dari Tuhan. Di tengah kesibukan yang ada waktu duduk di kaki Tuhan seperti Maria yang tekun mendengarkan perkataan Yesus, harus selalu ada.

Mezbah keluarga merupakan hal yang vital dalam pertumbuhan iman dan kesatuan roh dalam keluarga. Sejak kecil orang tua penulis telah mendidik dan membesarkan kami anak-anaknya untuk setiap malam melakukan mezbah keluarga. Mezbah keluarga merupakan satu sarana yang sangat penting dapat dipakai oleh orang tua untuk mengajar dan mendidik tiap anggota keluarga dengan nilai-nilai yang benar berasal dari Firman Tuhan.

“Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mazmur 133:1).

Saat ini dan hari ini ambillah komitmen dengan Allah untuk menjadi seperti Nuh, hidup benar, tidak bercela dan bergaul dengan Allah, maka Anda akan mengalami multiplikasi dan promosi dari Tuhan.

[JS]

 

Hello world!

Posted: February 28, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!